Friday, October 14, 2016

Belajar Belajar dan Belajar

Bonjour bro sist!
Udah minggu aja ni, free dong dari segala macam kegiatan? mungkin sih ya. Minggu boleh aja jadi hari libur nasional, tapi gak berarti kita berhenti belajar hanya karena ini hari libur.
Life is full of learning sob! Ingat!

Belajar, apasih belajar?
Belajar ya gitu, dari kita yang gak tau apa-apa sampe tau apa-apa. Kalau menurut ibaad, belajar adalah proses kita dalam menguasai sesuatu yang pada awalnya tak bisa menjadi bisa. Kira-kira seperti itu, maafin kalau ibaad keliru.
Belajar mah luas, luas banget!
Kita belajar mah sejak kita dalam kandungan sampe nanti akhir khayat kita. Dalam hidup kita emang gak akan luput dari yang namanya belajar. Segalanya kita pelajari dari hal sederhana hingga sesuatu yang luar biasa. Terlepas dari besar kecilnya hal yang kita pelajari, pada akhirnya tetaplah sebuah pembelajaran.
Ada banyak sekali pembelajaran di dunia ini, bahkan setiap hela nafas kita tanpa kita sadari kita telah belajar. Belajar dari hal-hal baik hingga yang terburuk sekalipun. Belajar dari sebuah penyesalan yang kita alami. Tanpa kita sadari segala peristiwa yang telah kita lewati sebenarnya adalah pelajaran besar untuk kita.
Sama halnya dengan postingan di blog gue ini, gue belajar banyak dari apa yang udah gue tulis, belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi. Begitu pula kalian yang gue harapin postingan gue bisa bermanfaat buat kalian, ya emang harus gue akuin postingan gue kebanyakan bapernya tapi paling gak ada sedikit pembelajaran yang bisa kita semua petik. Dari bahasan gue soal mantan, pacaran, kesempatan kedua dan masih banyak lagi yang lainnya yang gak bisa gue sebutin satu persatu. Semuanya gue harap bisa jadi pembelajaran buat kita semua, karena kita bisa belajar darimana aja sob termasuk postingan nyeleneh gue. Hidup emang penuh pembelajaran, setiap detik dalam hidup kita ada pembelajaran yang kita dapat meski terkadang kita tak sadar akan hal itu. Pemerintah menggaungkan wajib belajar 12 Tahun? gue rasa kurang tepat karena wajib belajar sesungguhnya seumur hidup, ya seumur hidup. Kita gak akan berhenti belajar hingga hembusan nafas terakhir. Kemudian ada peribahasa yang menyebutkan "tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina". Gue kurang sepakat akan hal itu, meskipun itu adalah peribahasa tapi belajar tak harus sampai ke negeri cina, karena apa? ya itu tadi, setiap detik dan dimanapun kita akan selalu belajar terlepas itu secara terencana maupun tak terencana.
Dan satu hal yang paling gue gak habis fikir, oknum-oknum yang udah belajar bertahun-tahun hingga bertitel tapi kelakuan masih gitu-gitu aja, korupsilah, suaplah dll. Satu hal yang kita bisa pelajari, belajar memang sepanjang usia tapi jika tak dibarengi dengan ilmu agama maka hilang sudah esensi dari pembelajaran tersebut.
Dan tolong dimaafkan karena tulisan gue kayaknya makin gak jelas dan semakin menjurus ke arah "tak belajar dari tulisan sebelumnya" makin jelek aja.
Hehehe... *sungkem*

Ini kayaknya udah harus gue akhirin tulisan pada postingan kali ini, karena jika diteruskan akan lebih melenceng dari bahasan, dan bakal gue tutup dengan quote gue yang cetar!

"Belajar mutlak tentang pengapliasian pada kehidupan serta manfaatnya bagi orang lain" -Ibaad, bungkusanpermen

Well, kayaknya bahasan ini absurd ya gengs? Maapin, kurang fokus nih ^^
See you in the pelaminan *eh next post deh. Ahaha

Ada tulisan yang kalian buat sendiri? mau ibaad publish? bebas bertema apa aja ntar bakalan Ibaad post kok, atau punya ide tapi bingung mau mulai nulis darimana? email aja yes! Kesini aja rozizzcrue@gmail.com. Jangan malu, santai aja gak usah minder tulisan kalian nantinya bakalan direspon gimana, yang perlu kalian pikirin adalah nulis nulis dan nulis aja.
Ditunggu! *ini serius*

Penyesalan Tak Mutlak Jadi Akhir Segalanya

Haiii haiii Fans. Hehehe...
Ibaad balik lagi nih, seperti biasa ngepost tulisan kampret, tulisan provokasi, tulisan gak penting tak sarat makna. Hahaha… Perlu kalian ketahui, sesungguhnya tulisan gue gak mutlak tentang pengalaman pribadi gue tapi bisa dari pengalaman teman, sahabat, atau bahkan mantan gue. Iya ada beberapa postingan yang gue tulis berdasarkan request dari mantan gue dan itu bukan tentang kisah kami. Jadi, tolong jangan diciye ciyein, ntar balikan. Wahahaha… Becanda doang, jangan diseriusin!

Pernah ngerasain penyesalan yang paling mendalam?
Gue yakin kita semua pasti pernah ngerasain betapa kampretnya rasa sesal, nyiksa bener dah pokoknya.
Kadang kita sok-sok nyalahin keadaan dll, padahalkan dasarnya kita aja yang dengan mudahnya teledor sehingga terjerumus ke lembah penyesalan. Ya gitu deh, penyesalan emang datangnya diakhir, mutlak sob gak usah diraguin lagi. Percaya deh sama ibaad. *senyum tamvan*

Oh iya, sebelum muncul fitnah kalau tulisan gue ini mutlak penyesalan dalam hal cinta gue mau lurusin dulu, penyesalan yang gue bahas ini umum kok, universal banget. Sumpah!
Ada banyak bentuk dan sasaran penyesalan, tergantung pribadi masing-masing sih soal apa yang disesalin. Ada yang nyesel soal cinta-cintaan, pekerjaan, keluarga. Banyaaak!
Penyesalan acap kali datang kala kita lupa, iya lupa bersyukur atas apa yang kita miliki. Tak luput pula disebabkan oleh emosi yang tak terkontrol, kenapa emosi? Ya karena dengan emosi yang meledak-ledak kita bisa salah ambil keputusan atau hal sejenisnya yang gak menutup kemungkinan keputusan yang berujung penyesalan. Emosi jelas menutup sisi bijak kita dalam menghadapi problem atau mengambil keputusan.

Pada akhirnya segala bentuk sesal yang muncul seringkali udah gak berguna sama sekali, karena penyesalan selalu bersahabat dengan kata “terlambat” dan jika telah terlambat habislah sudah. Tapi satu yang pasti satu penyesalan mengajarkan kita akan hal besar untuk kehidupan kita di masa yang akan datang.
Tapi jika terlambat yang gue bilang ini dibenturin sama kata-kata familiar ini “gak ada kata terlambat” gimana? Gue akuin, “gak ada kata terlambat” emang benar adanya tapi untuk hal penyesalan bisa gue pastiin pasti terlambat, karena apa? Karena penyesalan emang datang diakhir setelah semuanya udah terjadi, dan itu mutlak terlambat. Gimana? Bingung kan loe? Sama! Gue juga. Wahahahaha…

Gue lurusin, kata “gak ada kata terlambat” itu cocoknya sama hal-hal tertentu doang, contohnya dalam hal belajar, ya emang gak ada kata terlambat buat belajar selagi ada niat pasti bisa. Gitulah kira-kira. Hehe…
Nah kalau elu bilang gak ada kata terlambat buat ngajak mantan elu balikan yang elu tinggalin sih kayaknya bakalan useless. Karena ini soal hati sob, tapi jangan terlalu percaya ya sama gue kalau soal ini, belom tentu bener, malahan sering salah. Hahahaha *ketawa jahat*
Ngomongin penyesalan emang kayak gitu, kayak sayangnya aku ke kamu. Gak ada habisnya *eaaaaakk*
Nyesel kan loe ninggalin gue :p Wahaha *ketawa jahat* 
Lah ini apa, kenapa jadi melenceng gini ya x_x
Dalam hal sederhana, terkadang kita khilaf berkata kasar kepada teman atau bahkan orangtua kita. Mutlak akan muncul rasa penyesalan jika memiliki nurani, nah kalau gak yaudalah ke laut aja loe, dasar gak punya hati, gue benci! *lah ini kok drama banget, maafin ibaad ya *sungkem
Penyesalan ninggalin orang yang sebenarnya berharga banget buat kita juga perih sob, kenapa? Karena kita lupa bersyukur akan dia, dan kala kita tersadar semuanya hampir pasti terlambat. Yang tersisa tinggalah penyesalan yang kampret. *mewek*
Gitu deh terkadang kita baru sadar akan berharganya seseorang saat seseorang itu pergi dari hidup kita. Tapi dari deretan penyesalan yang ada, hal yang paling kita sesali nantinya adalah waktu yang kita lewatkan gitu aja, tak sempat bahagiain orangtua, dan lebih khususnya kayak penyesalan gue, penyesalan gue yang belum sempat bawain calon pendamping hidup gue ketemu nenek tapi nenek udah keburu pergi. Ini seriusan sedih banget! Nenek I love you! Promise you that I’ll find a girl like you someday :) 

Sekali lagi kebukti, penyesalan emang tak bisa dilepaskan dengan kata “terlambat”. Terlambat sudah menyesali semuanya. Di masa mendatang kita semua mesti lebih wise lagi ngadepin segalanya, baik itu dalam hal cinta-cintaan, keluarga, persahabatan dll. Bagi kalian yang sering berantem trus gampang bilang putus ke pacarnya, inget jangan nurutin congor aja cuk. Karena seperti yang gue bilang dipostingan sebelum-sebelumnya kalau kesempatan kedua itu gak seindah kesempatan pertama dan kerap kali berujung sama atau bahkan berujung lebih mengenaskan. Penyesalan tu perih banget, sumpah! *peluk mantan*
Ambilah hikmah dari sebuah penyesalan, apapun, sebesar apapun. Sekalipun penyesalan dan terlambat tak akan terpisahkan, belajarlah akan kewaspadaan agar tak terulang penyesalan dikemudian hari.

“Penyesalan mutlak muncul diakhir, tapi satu penyesalan ajarkan kita seribu kewaspadaan tuk hadapi kehidupan di masa mendatang”- Ibaad, bungkusanpermen

Well, sekian postingan gue kali ini. Maafin agak baper dikit. Hehe

See ya!

Thursday, October 13, 2016

Jealous? Bersyukurlah

Ohayouuuu kakak manis *eh
Maaf maaf, khilaf di pagi hari. Hehehe
Ohayouuuu minna~
Have a great day ya guys!

Baru aja tadi malam gue ngepost, ini mau ngepost lagi. Ya emang gitu kebiasaan gue, kalau udah terlanjur dapat ide kampret mesti cepet-cepet ditumpahin. Hehehe
Mungkin kalian bertanya-tanya, kok pagi-pagi gini, Ibaad udah nongol aja? Gak kerja apa?
Gue akuin emang sampai detik ini gue tak lebih dari seorang pengangguran, kerjaan gue tiap hari ya makan tidur makan tidur doang, tapi gak sebatas itu, ada kakek gue yang mesti gue temenin di rumah. Bukannya jadiin ini sebuah alasan, tapi gue cuma mencoba untuk memanfaatkan waktu gue yang blm bekerja ini untuk nemanin kakek, nah kalau gue kelayapan kasian beliau sendiri di rumah. Dan kalian gak pernah tahu gue sebenarnya beban banget di posisi ini, bukan soal nemenin beliau tapi soal gue yang belum juga mendapatkan pekerjaan. Bukannya tak berusaha, kita tahu sama tahu lah, ini kan era digital, nyari kerja gak harus mondar mandir dilauran sana, cukup stay di depan PC aja udah cukup menurut gue. Stop jadi juri gadungan!

Terus, kalian pasti bingung ini Ibaad sebenernya mau ngebahas apaan sih?
Gue mau ngebahas soal dengki/iri/jealous. Ya sifat itu emang udah gak asing lagi, dan kita gak usah munafik dengan mengatakan tak pernah mengalami hal tersebut. Jangan!
Ada orang yang beranggapan iri itu tidak baik, ada pula yang beranggapan sebaliknya. Kenapa demikian? karena sudut pandang masing-masing orang akan hal itu berbeda. Lumrah dong? Jelas!
Ketika orang beranggapan bahwa iri atau dengki itu gak baik, tentulah mereka memandangnya dari sudut keilmuan dan agama. Jelas di dalam agama tidak membenarkan akan hal itu, iri merupakan sifat yang tidak baik dan jelas mengotori hati. Lalu, bagaimana dengan orang yang beranggapan bahwa iri itu baik, tentu pula mereka berpandangan dari sudut pandang logika mereka. Secara logika, iri atau dengki bisa jadi cambuk atau motivasi untuk menyamai atau bahkan melampaui apa yang kita dengkikan. Jelas itu merupakan hal yang baik jika merujuk pada hasil, bukan proses dari hasil tersebut yang dilandasi iri atau dengki.

Ngebahas soal iri atau dengki emang gak ada habisnya, hal ini tak luput dari sifat manusia yang tak pernah puas. Ada saja hal yang membuat kita iri akan orang lain, dari hal kecil hingga hal yang besar.

"Tingkat kepuasaan yang tak terbatas dan lupanya kita akan apa yang telah kita miliki adalah dalang dari sifat iri atau dengki" -Ibaad, bungkusanpermen

Hari ini mungkin kita punya 1, besok mungkin kita ingin 2,3 dan seterusnya. Bagaimana dengan iri atau dengki yang orang anggap baik?
Kita ambil contoh kesuksesan orang disekitar kita, ada banyak saudara, teman, sahabat kita yang sukses dan tak menutup kemungkinan rasa iri atau dengki itu muncul. Lantas apakah hal ini yang dikatakan dengki atau iri yang baik, dengan melihat kesuksesan seseorang lalu timbul rasa ingin meraih hal yang sama atau bahkan lebih?
Menurut Ibaad, gak mutlak baik tapi logikanya hal ini bisa jadi motivasi untuk kita maju menuju kesuksesan, terlepas dari rasa iri atau dengki tadi yang memicu akan hal ini.
Terkadang Ibaad secara pribadi merasa iri akan kesuksesan orang lain, kenapa gue gak bisa kayak mereka? kenapa gue dulunya gak jadi polisi aja? kenapa gue kuliah? kenapa?
Yang jelas "kenapa" gak harus dijawab dengan kata "karena". Takdir, ya anggaplah begitu karena jalan hidup seseorang udah didesign sedemikian rupa oleh Allah, jangan pernah mengeluh akan apa yang tak kau punya hari ini tapi bersyukurlah akan apa yang kau miliki hari ini.
Bisa jadi hari ini kita belum jadi apa-apa, siapa yang tau besok lusa? yang terpenting tetaplah berusaha dengan diiringi do'a tentunya dan jangan lupa pesan Almh nenek gue, "sabar".

"Everyone has their own destiny, then has their own way to reach it. Believe it!"-Ibaad, bungkusanpermen

Jadi, kesimpulannya adalah iri atau dengki pure gak baik dan akan tetap begitu.

Well, sekian postingan ngawur kali ini. Maafin ibaad ya, maafin belum bisa ngelamar kamu kakak berkerudung merah ^^ hihihi
See you in the next post!
Sayonaraaa~

Wednesday, October 12, 2016

Cinta Pada Pandangan Pertama? Hoax!

Konbawa minna~
Ibaad balik lagi nih, pasti gak ada yang nantiin tulisan tulisan kampret gue. Ya gak? 
Kasian bener ya gue. *nangis dipojokan*
Gimana nih kabar kalian setelah ditinggal do’i? masih mewek aja? Dasar lemah! Wkwkwk *ketawa jahat*

Beberapa hari silam ibaad baru kelar ikutin kegiatan kepramukaan, biasalah ngawasin bocah-bocah yang ikut lomba. Secara gue kan dibutuhin banget disana buat nyemangatin mereka, padahal nyatanya apa? Gue cuma numpang tidur doang disana. Hahaha
Maafin kakak ya adik-adik *agak mewek dikit*

Beberapa hari disana ada banyak banget yang kakak-kakak cakeps, wajar dong laki mah gitu punya mata ya nikmatin aja paras-paras kakak-kakak cantik yang ada. Hehe…
Trus apa pentingnya gue tulis ini semua? Gak tau juga ya, ini gue kurang fokus mungkin, efek banyaknya kakak-kakak yang menawan. Ada sih 1 yang beda diantar mereka semua. Beda banget, dan gue udah masuk ke level kagum dan penasaran. Ingat, gak ada yang namanya cinta pandangan pertama, yakin deh! Percaya aja sama gue.
Ya walaupun postingan gue sebelumnya menghimbau untuk jangan terlalu percaya tapi kali ini please percaya, karena gue mau ngebahas kalau cinta pandangan pertama itu Cuma mitos, hoax doang!

Let start it!

Ngomongin soal cinta pada pandangan pertama, gue yakin kalian semua pasti pernah memvonis diri kalian akan hal ini. Bener gak?
Percaya atau gak yang namanya cinta pandangan pertama itu tak lebih dari sebuah ilusi yang kita captain sendiri ke dalam diri kita. Berdalih telah jatuh cinta padahal baru kali pertama jumpa dan belum mengenal sama sekali. Gini aja, ketika elu liat kue yang keliatannya enaaak banget tapi kue itu blm pernah elu makan sebelumnya. Nah, gimana mungkin elu langsung memvonis kalau elu suka banget sama kue itu sebelum kamu mencobanya. Bener gak?
Sama halnya dengan cinta, cinta itu soal waktu, proses, kebiasaan. Catet!
Kalau ada yang bilang cinta pada elu padahal kenal aja baru beberapa hari atau bahkan baru ketemu tadi pagi, itu gak lebih dari sekedar cinta hoax. Ada beberapa alasan mereka yang memvonis dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama: pertama kagum, kedua penasaran, ketiga nafsu. Bukannya apa-apa, apasih di dunia ini yang gak butuh proses? Apalagi soal hati, gak semudah itu bro sist. Jangan samain hati loe dengan mie instant, beda!

Normalnya cinta bisa tumbuh jika terbiasa dalam berbagai hal, seperti terbiasa berkomunikasi dan betemu secara intens. Untuk standar berapa hari cinta akan tumbuh, tak ada teori pasti karena cinta datang karena terbiasa dan tak ada standar akan berapa hari akan tumbuh karena tingkat “kesuburan” cinta seseorang untuk tumbuh berbeda-beda.

“Cinta pada pandangan pertama adalah ilusi yang kita ciptakan dan pada dasarnya hal itu tak lebih dari sekedar rasa kagum atau penasaran terhadap seseorang” –Ibaad, bungkusanpermen.

Gue juga gak ngerti sama mereka yang gampang banget abis putus besoknya udh ada yang baru, dan kampretnya pake umbar umbar soal cinta. Sumpah itu gelik!
Nah dalam hal ini boleh banget kalian hubungkan dengan postingan gue sebelumnya, jangan terlalu percaya. Hehehe

Ketika kalian bertemu orang baru kalian kenal atau bahkan belum kalian kenal sama sekali dan kalian merasakan hal yang berbeda maka itu tak lebih dari rasa kagum dan penasaran kalian. Karena pada dasarnya manusia memang tak lepas dari penasaran akan hal hal baru, termasuk penasaran akan orang yang baru dikenal atau ditemui. Tentu saja tak luput dari paras, gak usah munafik paras juga menjadi faktor akan kekaguman dan penasaran kalian, dan itu hal yang lumrah. Ya memang gak semua begitu, ada pula yang kagum akan sikap, wibawa dan lain lain. Balik lagi ke diri kita masing-masing, karena standar seseorang berbeda-beda. Kayak gue, gue seneng akan dia yang unik entah itu humoris, wibawa, ataupun hobi yang sama. *lah gue malah curhat*

Dan pada akhirnya inti dari sebuah perjalanan untuk mempersatukan tulang rusuk dan pemiliknya tak mutlak ditentukan paras, tapi mungkin juga kenyamanan dan kesetiaan. Kenapa gue bilang mungkin? Karena emang gak ada hal yang bisa gue pastiin, karena yang pasti datangnya hanya dari-Nya, Allah S.W.T. Jika telah dipersatukan, tulang rusuk takkan pernah pergi meninggalkan pemiliknya kecuali tiba masa untuknya kembali menghadap sang maha kuasa.

“Pada akhirnya kriteria yang kita ciptakan untuk pendamping hidup tak mutlak jadi yang terbaik, tapi dia yang namanya tertulis pada buku nikahmulah yang mutlak terbaik untukmu”- Ibaad, bungkusanpermen

Well, sekian tulisan nyeleneh gue yang makin hari makin gak jelas. Maapin ibaad ya teman teman *sungkem*
See you in the next post!
Oyasuminasai kakak berkerudung merah^^
Kawaiii ^^

Monday, September 26, 2016

Privasi, Terpublikasi atau Dipublikasikan?

Hai.. hai.. hai..
Dikarenakan belum ada tanda-tanda si "bapak api" ngajakin pulang jadi lanjut ngelindur aja ya.
Kali ini apa lagi?
Gak ada lagi? Iya emang di kepala gue udah gak kepikiran mau ngerecokin apa tapi ini gue paksa-paksain biar gak ngantuk aja maklum ini kan lagi di tempat umum, gengsi dong cowok sekeren gue jam segini udah keliatan ngantuk atau bahkan tidur. *uhuk*
Bahas apaan ya?
Gimana kalau tentang privasi yang kadang bukan lagi privasi kala era digital menuntut publikasi.
Ini harus gue akuin, gue terinspiras dari mantan gue yang gak perlu gue sebutin namanya karena gue gak mau ntar timbul opini-opini nakal kalian. Hahaha...
Ya kalau do'i ngebaca post gue ini, gue harap do'i seneng. Hehe..
Ngomongin privasi yang terpublikasi emang selalu menarik, coba deh liat-liat lagi di sekitar kita, ada banyak hal yang mestinya gak perlu dipublikasiin tapi dipublikasiin, dari hal kecil sampe yang gede, ini bukan ngomongin "anu" ya, Bukan!
Kalau kita tarik lagi ke belakang, apa kita dulu foto-foto dulu sebelum makan? ngepost dulu? gak kan? sebelum era digital mewabah semua tampak fine-fine aja, emang sih gak ada masalah ngeshare hal-hal demikian tapi yaudalah kita tinggalin soal foto sebelum makan. Mari beranjak ke poin yang levelnya lbh tinggi lagi, di era ini sangat mudah bagi kita untuk tahu isi hati seseorang atau kondisi seseorang, kenapa? ya karna publikasi itu sendiri. Bahkan ironisnya ada aja oknum yang sampe publikasiin hal yang bener-bener detail yang gak seharusnya jadi konsumsi publik. Kesalahan dalam menafsirkan gaul, eksis yang jadi dalang akan hal tersebut. Kenapa? karena ada aja pemikiran kurang eksi kalau gak ngepost apa-apa aja kegiatan, keadaan ke sosmed. Ada hal yang perlu dan tak perlu, dua hal yang harus dipahami betul, kebanyakan oknum hanya ikut-ikutan trend dan pemahaman yang keliru.
Trus kalau elu lagi sedih, galau gitu. dunia harus tau?
Dan lucunya ntar kalau direcokin orang lain kemudian jadi risih sendiri, lah salah siapa coba yang asal ngeshare ke publik. Kemudian muncul pembelaan "ini akun gue, suka-suka gue mau ngeshare apa aja". Nah itu kan kampret! Hahaha *ketawa jahat*
Yakali ada orang yang salah mau ngaku salah, yang ada hanyalah pembenaran. Kita hidup di negeri dimana suatu kesalahan akan selalu ada pembenarannya.

Seringkali ada juga oknum ngepost hal yang sifatnya sensitif, kenapa gitu ya?
Apa karena eranya? jangan salahin era, era gak tau apa-apa kok, beneran deh.
Sama kayak yang gue bilang sebelumnya, keliru jadi kambing hitam untuk hal ini. keliru menematkan hal yang bersifat privasi ke ranah publik.
Ngomongin privasi yang terpublikasi emang gak ada habisnya di era digital ini, ya mau gimana lagi. Bagi mereka yang bener menafsirkan bakal bertahan dari gerusan ilusi akan tuntutan publikasi. Dan bagi yang yang gak bener nafsirin bakal tergerus habis akan tuntutan publikasi yang semu, yang mereka ciptain sendiri.
Jika ada pembenaran akan tuntutan publikasi yang menyebabkan privasi dipublikasikan maka sebenarnya itu hanyalah ilusi. Tak ada tuntutan seperti itu, mindsetlah yang jadi dalangnya, kesalahan mengartikan. Seolah era ini era tanpa privasi, segalanya terpublikasi.
Tapi, gak mutlak kok, akan tetap ada yang bener-bener menjada privasinya. Balik lagi ke masing-masing individu dalam menyikapi era publikasi ini, iya sengaja gue sebut "era publikasi" gak apa-apa kan?
Hehehe..
Ini gue makin laper aja, kapan baliknya ini???
Tulisan gue juga makin gak jelas juntrungannya. Hahaha
Maapin mantanmu ini *sungkem*
Jadi, privasi dan publikasi di era ini hampir tak ada batasan, kenapa? tanyakan pada diri kita masing-masing. Mari introspeksi diri masing-masing, sudahkah kita menempatkan privasi kita pada tempatnya?

"Privasi sejatinya adalah hal yang bersifat rahasia dan tersimpan rapat pada diri kita, Jika benar privasi maka tempatkan pada tempatnya"-Ibaad, bungkusanpermen

Well, that's all guys. See ya!

Jangan Terlalu Percaya

Aloha...
Selamat malam sayang *eh
Ibaad balik lagi nih buat ngerusakin penglihatan kalian dengan tulisan gak penting kayak biasanya. Hehehe...
Gimana kabar kalian? udah kerja? *plaaakkk
Ini ceritanya lagi ngopi bareng sodara gue yang dijuluki "bapak api", tapi karena koneksi internet udah kayak hubungan kita yang udah gak bisa diharapkan lagi, jadi gue putusin elu *eh gue putusin buat nulis aja. Bahas apa lagi kita kali ini?
Mantan? ah so last week itu mah.
Teman gimana? atau solidaritas? atau apa ya?
Akhir-akhir ini gue lagi demen-demennya sama kata "Jangan terlalu percaya".
Ngomongin soal percaya emang gak ada habisnya, karena yang ada habisnya cuma hubungan gue sama do'i. Hahahaha...
Tapi coba deh tulisan gue ini sesekali diseriusin dikit, dikit aja. Bisa kan?
Soal percaya sama mereka yang dekat sama kita kadang kita gak pake batasan lagi, kenapa? karena kita udah terlena akan mereka yang seolah tanpa cacat cela sedikitpun. Kenapa berfikiran mereka harus dipercaya 100%, kenapa gak terbesit di benak suatu saat mereka mungkin aja yang bakal mengkhianati kepercayaan yang kalian titipkan. Pernah gak berfikir demikian?
Iya gue tau kita emang gak boleh berburuk sangka, tapi ini tentnag "possibility" everything is possible, kayak kita berdua bisa aja balikan ntar. Hwahahaha..
Baru baru ini gue ngerasain hal yang kayak yang udah gue bilang tadi, iya orang yang gue kayaknya percaya banget eh ternyata tak disangka-sangka membelot *eh apa sih kata yang tepat? susah juga, kalau berkhianat levelnya terlalu tinggi.
Penyakit orang kayak gue ini emang ladang buat mereka yang gak bisa jaga titipan gue, iya kepercayaan. Gue mudah percaya, tapi gue yakin di dunia ini bukan cuma gue kok. So, sabar aja *ingat pesan nenek*
Kalian pasti bisa bayangin dong gimana nyeseknya? iya ini kalau gak ingat pesan nenek, bakalan terjerumus ke jurang "dendam" jadi gue putusin buat gak dendam tapi "ingat".
Mau gimanapun gak mungkin gue lupa, catet!
Gue gak tau kenapa bisa kejadian, tapi emang bener kata orang-orang hidup itu terus berjalan dan hal yang gue yakinin juga sejalan dengan itu semua kalau, Manusia jauh dari kata "konsisten". Terserah bagi kalian yang gak percaya, tapi pasti gak ada satupun dari kita yang konsisten, hari ini kita bisa aja berkata "A", lah besok? bisa aja jadi "B" atau bahkan "C". Saran gue buat kalian dan terutama buat gue sendiri jangan memastikan hal-hal yang sejatinya dibawah naungan dan kuasa sang pencipta. Jangan!

Ini makin gak nyambung gini ya? maapin, efek udah lama gak ketemu kamu. *senyum simpul*
Sebelum pamit gue kasi sebuah kata-kata yang tak memotivasi tapi berarti.

"Jangan titipkan kepercayaanmu sepenuhnya, karena segala kemungkinan yang tak terbayangkan sebelumnya mungkin aja terjadi, jangan terlalu percaya." -Ibaad, bungkusanpermen

That's all, lads. See ya, treasure!

Sunday, September 18, 2016

Jangan Dibaca!

Hai hai fans *eh Maaf.. maaf, ibaad khilaf :))
Gimana nih kabar kalian? udah lama banget ya ibaad gak nongol, pasti gak ada yang mantengin blog biasa ini, ya gak?
*nyadar diri*
Ibaad balik lagi nih, lumayan ada waktu buat ngetik, ngelantur lewat sebuah tulisan yang biasanya baper tapi agak serius. Hehe..
Beberapa waktu silam, gue baru sadar, bukan karna gue pingsan tapi gue sadar akan arti kehilangan yang sesungguhnya. Mungkin selama ini gue ngerasa kehilangan terbesar gue itu kamu yang ninggalin gue disaat lagi sayang-sayangnya, tapi ternyata gue salah. Salah banget!
Nenek gue telah dipanggil untuk menghadap yang maha kuasa, gue hancur banget, sakit, sakit yang gak pernah sesakit yang pernah gue alamin sebelumnya, Dari kecil sampe gue segede ini beliau ada terus disamping gue, ngerawat, ngedidik, nasehatin gue. Segalanya banget buat gue, iya gue yang terlahir di keluarga yang "gak sempurna". Ngomongin kehilangan, elu semua kampret kalau pada bilang sakit banget ditinggal pacar, gak bisa hidup tanpa dia. Fak! Gelikk!
Kehilangan sesungguhnya bakal elu rasain kala orang yang dari awal ada di hidup elu pergi dan gak akan kembali.

"Diamanapun dan bagaimanapun kodisimu saat ini dan yang akan datang, hadapilah semuanya dengan kesabaran" - Nenek gue.

Udah ah, ngebahas yang lain aja :')
Tapi ngomongin apa ya? gimana kalau tentang solidaritas? atau kebersamaan? atau kepercayaan? gimana?
Tapi next post aja ya, ntar deh ibaad tulis, ditunggu aja ya walaupun ibaad tau nunggu itu emang gak enak, ini serius! So, that's all just for teaser of the next post.

See ya, treasure!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More